• warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /var/hosts/darulabrar.org/includes/database.mysqli.inc:128) in /var/hosts/darulabrar.org/includes/common.inc on line 148.
  • user warning: Table './dabrar2/counter' is marked as crashed and should be repaired query: SELECT counter_date FROM counter ORDER BY counter_date DESC LIMIT 1 in /var/hosts/darulabrar.org/sites/all/modules/counter/counter.module on line 153.
  • user warning: Table './dabrar2/counter' is marked as crashed and should be repaired query: INSERT IGNORE INTO counter (counter_ip,counter_date,counter_page) VALUES ('38.107.179.236','2012-05-19 11:56:15','/blog/tags/shalat/2010/09/08/keselarasan-penentuan-waktu-shalat-dengan-logika') in /var/hosts/darulabrar.org/sites/all/modules/counter/counter.module on line 189.
  • user warning: Table './dabrar2/counter' is marked as crashed and should be repaired query: SELECT count(*) as total FROM (SELECT counter_ip FROM counter GROUP BY counter_ip) c in /var/hosts/darulabrar.org/sites/all/modules/counter/counter.module on line 229.
  • user warning: Table './dabrar2/counter' is marked as crashed and should be repaired query: SELECT counter_date FROM counter ORDER BY counter_date ASC LIMIT 1 in /var/hosts/darulabrar.org/sites/all/modules/counter/counter.module on line 336.
  • user warning: Table './dabrar2/counter' is marked as crashed and should be repaired query: SELECT count(*) AS total FROM counter WHERE SUBSTRING(counter_date,1,10)= '2012-05-19' in /var/hosts/darulabrar.org/sites/all/modules/counter/counter.module on line 355.
  • user warning: Table './dabrar2/counter' is marked as crashed and should be repaired query: SELECT count(*) AS total FROM counter WHERE SUBSTRING(counter_date,1,10) > '2012-05-12' AND SUBSTRING(counter_date,1,10) <= '2012-05-19' in /var/hosts/darulabrar.org/sites/all/modules/counter/counter.module on line 366.
  • user warning: Table './dabrar2/counter' is marked as crashed and should be repaired query: SELECT count(*) AS total FROM counter WHERE SUBSTRING(counter_date,1,7)= '2012-05' in /var/hosts/darulabrar.org/sites/all/modules/counter/counter.module on line 373.
  • user warning: Table './dabrar2/counter' is marked as crashed and should be repaired query: SELECT count(*) AS total FROM counter WHERE SUBSTRING(counter_date,1,4)= '2012' in /var/hosts/darulabrar.org/sites/all/modules/counter/counter.module on line 380.
  • user warning: Table './dabrar2/sessions' is marked as crashed and should be repaired query: SELECT COUNT(sid) AS count FROM sessions WHERE timestamp >= 1337398875 AND uid = 0 in /var/hosts/darulabrar.org/includes/session.inc on line 121.
  • user warning: Table './dabrar2/sessions' is marked as crashed and should be repaired query: SELECT DISTINCT u.uid, u.name, s.timestamp FROM users u INNER JOIN sessions s ON u.uid = s.uid WHERE s.timestamp >= 1337398875 AND s.uid > 0 ORDER BY s.timestamp DESC in /var/hosts/darulabrar.org/modules/user/user.module on line 775.

Keselarasan Penentuan Waktu Shalat dengan Logika

Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui yang telah menurunkan syari'at Islam yang penuh keindahan, kesempurnaan dan kemudahan. Salah satu syari'at yang menunjukkan keindahan, kesempurnaan dan kemudahan dalam Islam adalah penentuan waktu shalat.

Waktu shalat sebagaimana dalam syari'at Islam adalah telah ditentukan berdasarkan isyarat dari al-Qur`an dan dijelaskan oleh tuntunan Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam syari'at yang mulia ini telah ditentukan waktu-waktu masuknya shalat dengan arah perjalanan matahari. Marilah kita perhatikan bagaimana keselarasan antara syari'at tersebut dengan kemudahan yang diberikan dalam Islam.

Masuknya waktu shubuh dialamatkan saat terlihatnya fajar shadiq dan berakhir saat terbit matahari. Waktu zhuhur masuk dengan tergelincirnya matahari dari puncaknya hingga berakhir saat panjang suatu benda sama dengan bayang-bayang benda tersebut. Masuknya waktu ashar ditandai dengan berakhirnya waktu zhuhur hingga tenggelamnya matahari. Waktu magrib dimulai dari terbenamnya matahari dan berakhir ketika syafaq (senja merah) menghilang. Dan waktu isya` dimulai dari hilangnya syafaq (senja merah) hingga pertengahan malam atau sepertiga malam.

Dalam syari'at yang mulia ini, walaupun keseluruhan waktu shalat ini menggunakan arah perjalanan matahari dan menggunakan penglihatan, namun modelnya berbeda-beda. Setidaknya ada tiga metode yang bisa dirangkum dari masuk dan berakhirnya waktu-waktu shalat di atas. Tiga metode tersebut adalah melihat langsung matahari, melihat bayangan dan melihat tanda (sebab matahari) di ufuk/kaki langit.

Metode pertama adalah melihat langsung pada matahari. Hal ini digunakan saat masuknya waktu magrib, yaitu melihat matahari yang tenggelam di ufuk barat (di lain waktu barat laut dan barat daya atau di antaranya). Syari'at yang mulia mensyari'atkan melihat matahari pada saat ini di mana ini merupakan hal yang mudah untuk dilakukan dengan mata, tidak menyilaukan, tidak membuat mata sakit dan tidak membutakan mata. Sedangkan merupakan hal yang tidak mungkin untuk menggunakan metode melihat bayangan karena saat ini bayangan tidak akan bisa lagi diukur karena akan mendapatkan hasil tak terdefinisi alias tak terhingga (~). Menggunakan tanda di ufuk/kaki langit juga tidak mungkin karena matahari masih terlihat dengan jelas. Benar-benar hal masuk akal.

Metode kedua adalah melihat bayangan. Hal ini digunakan saat masuk waktu zhuhur, masuk waktu ashar dan berakhirnya waktu ashar. Kesempurnaan syari'at penggunaan model ini pada kedua waktu ini merupakan hal yang begitu indah. Pada saat matahari sedang bersinar dengan teriknya adalah tidak mungkin kita melihat langsung ke matahari yang dengan hal tersebut akan membuat mata kita silau, sakit dan bahkan bisa menyebabkan kebutaan. Sehingga syari'at Islam datang dengan menggunakan bayang-bayang benda sebagai penunjuknya. Sebuah hal yang penuh hikmah dan sesuai dengan logika yang sehat.

Metode ketiga adalah penggunaan tanda di ufuk/kaki langit. Hal ini digunakan saat masuk waktu shubuh dan isya`. Pada waktu shubuh kita menggunakan tanda fajar shadiq sedangkan pada waktu isya` kita menggunakan tanda syafaq. Penggunaan tanda di ufuk/kaki langit pada dua waktu ini merupakan kesempurnaan syari'at Islam dan Yang Menurunkannya, Allah 'Azza wa Jalla. Di saat matahari tidak nampak lagi yang berarti tidak dimungkinkan untuk melihat matahari langsung atau melihat bayang-bayang benda, maka Allah menjadikan dua tanda ini --yaitu fajar dan syafaq-- sebagai penanda masuk shalat. Di mana dua metode lain sudah tidak bisa digunakan lagi karena memang tidak akan bisa digunakan berdasarkan logika yang sehat.

Alhasil, tiga metode ini menunjukkan kesempurnaan Islam dan keMaha Bijaksanaan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak lebih dan tidak kurang. Karena Allah yang menciptakan langit, matahari, bumi dan bulan serta yang menciptakan pada masing-masing lintasannya. Allah pula yang menciptakan fenomena-fenomena alam yang terkait dengan objek-objek langit. Maka Allah pula lah yang paling tahu bagaimana penanda yang paling tepat untuk masuknya waktu-waktu shalat.

Dan walaupun ketiga metode ini berbeda untuk satu tujuan yaitu penanda masuk dan berakhirnya waktu shalat, yang perlu ditegaskan di sini adalah: "ketiga metode ini dapat dilakukan dan dilaksanakan mulai dari saat diturunkan syari'at yang mulia ini hingga akhir zaman". Adalah syubhat yang datang di saat ini yang mengatakan satu dari ketiga metode di atas atau semuanya tidak bisa lagi diterapkan di saat ini. Misalnya syubhat yang mengatakan tidak mungkin lagi untuk melihat fajar atau syafaq. Penolakan atau syubhat dari salah satu metode yang ada di atas secara tidak langsung menegaskan ketidak sempurnaan dan ketidak umuman syari'at Islam untuk seluruh zaman. Dan bila syubhat ini berjalan dengan mulus, maka secara tidak langsung pula kita melontarkan syubhat bahwa Allah tidak bijaksana dalam menempatkan tanda-tanda masuk waktu shalat, karena Allah ternyata tidak tahu akan ada tanda-tanda waktu shalat yang tidak bisa digunakan lagi di zaman akan datang. Wal 'iyadzu billahi.

Semoga uraian ini bisa membangkitkan gairah keIslaman kita, bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna dan paling bijaksana serta paling mudah untuk diterapkan di kehidupan ini.

Wa shallallahu wa sallamu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala aalihi ajma'in.